Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘kerja’ Category

Rabu (15 oktober 2008) saya tersadar bahwa ijazah terakhir saya tidak berada pada tempatnya, setelah hampir 40 hari saya tidak bergelut dengan ijazah.

masih pengen nerusin tapi belom ada mood dan berkejar-kejaran dengan waktu..

 

bersambung…..

UPDATE

Ijazah masih belum ditemukan, tapi sudah ada surat salinan Pengganti Ijazah dari Rektor.

Read Full Post »

Job fair yang bertajuk CAREER DAYS III ini berlangsung dari tanggal 13 – 15 Agustus 2008, diadakan oleh ECC FT UGM. Karena yang punya hajat adalah sebuah fakultas teknik dari salah satu universitas terbaik di negeri ini, perusahaan yang datang juga lumayan banyak dan punya nama. Sebutlah BUMA, Indonesia Power, Scheneider Electric, Telkomsel, Total, Bank Mandiri, Indofood, Astra Agro Lestari, dll. (untuk daftar lengkapnya dapat dilihat disini)

Antusias Lulusan yang fresh dan sedikit kurang fresh serta tidak fresh graduate lagi lumayan besar. Di Hari Pertama antrian pembelian tiket masuk,Rp. 20.000, lumayan panjang dan berkelok-kelok. Tiket masuk ini berupa tiket terusan untuk tiga hari acara, Cuma jika tiketnya hilang, maka harus beli lagi. Target penyelenggara dengan kehadiran 6000 pengunjung selama penyelenggaraan tampaknya tercapai.

Setiap Pengunjung yang sudah beli tiket masuk, secara otomatis (walaupun butuh registrasi lanjutan) bergabung menjadi member dari ECC FT UGM ini, dan dapat melamar lowongan secara online melalui website ECC.

Dari 3 hari Penyelenggaraan, saya hadir selalu. (ga mau rugi dong ?hehehe…)

Hari Pertama Nabung Lamaran dan satu interview langsung.

Hari Kedua Psikotes dan nabung lamaran sedikit.

Hari Ketiga Psikotes dan interview HRD.

Beberapa hal yang mencuri perhatian saya (sebagai jobseeker) adalah para penjaja minuman, penjual rokok plus plus, hingga penjual alat tulis (mereka semua dapat dibaca sebagai : entrepreneur) di sekitar lokasi Job Fair.

Jujur, saya merasa malu dan iri (sedikit) dengan mereka. Ketika saya dan jobseeker lain berdesak-desakan melihat papan pengumuman lowongan, rela antri dan bayar untuk dapat tiket masuk, rela berdesak-desakan di tiap stand perusahaan, mereka dengan santai duduk-duduk mencari rejeki. Hingga berkenalan lah saya dengan seorang penjual minuman yang tiap hari berjualan di sekitar UGM. Bang Iwan namanya,asal Medan, Siantar tepatnya. baru 6 bulan di jogja dan bekerja sebagai penjual minuman. Kalo dia berbicara bahasa campuran (bahasa indonesia dengan diselipkan kosakata jawa sedikit-sedikit) terdengar lucu, karena logat Medannya masih kental kali bah. Dari pengakuannya, Bang Iwan ini seorang perantau sejati dan sudah puas kerja dengan orang. Mulai dari Pelaut, Debt collector, sales, sopir angkot, dan sebagainya sudah pernah dia lakukan. Bang Iwan cerita, kalau ada acara seperti ini penghasilan bersihnya bisa mencapai 300 ribu rupiah per hari. Obrolan dengan bang iwan ini tidak hanya sebatas jual minuman, tapi juga melebar hingga ke pengembangan pasar jika ingin kaya, juga masalah korupsi, hingga tingkat pengangguran yang semakin bertambah, dan sebagainya. Hebat ya ?

Satu kata-kata bijak dari bang Iwan,

” yang penting saya ga ngemis, ga minta-minta, dapat dari cara yang halal. Dan persetan orang mau bilang apa tentang pekerjaan saya yang Cuma penjual minuman ini”

Sayang saya ga punya foto Bang Iwan dan Gerobak minumannya.

Kadang, keinginan membuat usaha sendiri atau menjadi entrepreneur tidak sepenuhnya datang karena memang ingin menjadi pengusaha (kecil-kecilan atau gede-gedean). Keinginan itu kerap kali datangnya karena ketidak sengajaan atau karena keadaan yang memaksa.

Sudahkah anda punya keinginan punya usaha sendiri ? jika iya bidangnya apa ? Jualan minuman seperti bang iwan ? jualan pulsa ? Jualan bakso ? laundry ? fotocopy ? rental PS ? warnet ? rumah makan ? kerajinan tangan ? event organizer ? catering ? Apotik ? distro ? Lapangan Futsal ? cafe dan diskotik ? hotel ? hehehe…kegedean ya… atau apa ?

Sharing yuk…

Read Full Post »

Kemarin siang, saya mendapat telepon dari sebuah grup perusahaan kelapa sawit dari hulu ke hilir. Bapak HRD yang menelepon saya menawarkan sebuah pekerjaan untuk grupnya mereka yang berada di wilayah gresik jawa timur. Dengan bayaran yang lumayan untuk yang tidak punya pengalaman kerja sama sekali jika dibandingkan harus berangkat ke Borneo untuk posisi sama dan anak perusahaan yang lain.

Tanpa ragu-ragu saya langsung menerima tawaran tersebut. Sebagai seorang jobseeker tidak ada berita yang lebih menggembirakan selain keterima kerja atau paling tidak panggilan tes kesehatan. Sang HRD bilang, untuk informasi tentang jadwal tes kesehatan akan dikabarkan secepatnya. Mendengar kata tes kesehatan, tanpa tedeng aling-aling, dengan jujur saya katakan pada sang HRD bahwa saya menderita buta warna parsial. Hal ini saya katakan supaya saya tidak terlalu larut dalam kegembiraan sedangkan di depan ada jurang kecewa menghadang serta untuk membangun kepercayaan saja. Sang HRD berjanji akan membicarakan lebih lanjut kelemahan saya ini kepada atasannya secepatnya. Sore nya saya ditelepon lagi, sayangnya tidak sempat ke terima karena saya masih berjibaku dengan psikotes perusahaan yang lain.

Pagi tadi, dengan percaya diri saya telepon sang HRD, dengan maksud awal menanyakan jadwal tes kesehatan. Apa lacur, dengan sebuah kalimat permintaan maaf sang HRD mengatakan bahwa saya belum dapat bergabung dengan perusahaan mereka karena menderita buta warna. Sang HRD juga sempat memberikan beberapa kalimat motivasi agar jangan menyerah dan terus berusaha.

Saya ? kecewa. Sangat manusia bukan ? betapa dahaganya saya akan sebuah pekerjaan. Ketika Harapan itu ada, tidak genap 24 Jam harapan itu musnah seketika karena buta warna. Baru beberapa hari yang lalu saya menulis untuk membesarkan hati karena mengidap buta warna, tidak disangka-sangka secepat ini buta warna menjegal saya. Kalimat penyembuhnya hanya ” Belum rejeki”. “Allah Punya skenario terbaik buat saya”, etc.

Saya ingin bertanya kepada kawan-kawan yang sempat membaca tulisan saya ini.

Apakah saya sudah melakukan hal yang benar dengan mengatakan di awal sebelum tes kesehatan bahwa saya buta warna ? atau, saya terlalu jujur sehingga membuyarkan sebuah harapan ?

Sekarang perasaan saya sudah lega, sudah dapat menyalurkan pelampiasan kekecewaan saya melalui tulisan di blog ini. Karna hidup terus berjalan.

Cuma yang masih bingung, saya harus kecewa pada siapa ?

update :

baru baca dongengan nya pakde rovicky, sayang beda kasus…smangat!!!!

Read Full Post »

terdampar

selamat pagi!
saya saat ini terdampar di sebuah masjid di wilayah cikarang. Tujuan datang ke cikarang adalah untuk memenuhi panggilan wawancara kerja (user?) dengan salah satu perusahaan di cikarang ini. Saya tiba pukul 4.00 pagi tadi dengan kereta ekonomi. Alasan memilih kereta ekonomi tak lain karena supaya perjuangannya lebih terasa aja,hehe..
kamis ini jadi hari yang berat buat saya. Semangat mulai drop,smoga ini bukan pertanda buruk.

Read Full Post »

Pagi tadi, saya berkesempatan menghadiri wawancara kerja dari salah satu perusahaan. Diawali dengan semangat yang drop di pagi hari setelah malamnya nonton EURO 2008, saya berusaha untuk menghadiri sesi wawancara ini. Perjalan yang harus saya tempuh menuju tempat wawancara kurang lebih 15 kilometer. Tempat wawancara tepatnya di gedung rektorat kampus. Motif awal saya datang tidak lebih untuk menghargai dan menghormati perusahaan yang sudah mengundang saya. Setiba di kampus jam 9:00 tepat,tapi ternyata saya datang terlalu cepat. Jadwal yang saya baca di website di website ACC-UII ternyata sudah direvisi, dan saya terlalu awal 1 jam dari jadwal. Setelah menunggu lebih dari 1 jam, karena HRD nya ternyata telat juga, saya masuk ke ruangan bersama 5 orang skaligus. Sesi wawancaranya sangat santai. Diawali dengan permintaan maaf sang HRD karena pesawat yang dia tumpangi delay dan akhirnya telat. Kemudian Bapak HRD ini mulai mengomentari berbagai hal tentang pernyataan dari orang-orang yang diwawancaranya, diantaranya adalah tentang pentingnya bahasa inggris, tentang fotografi dan berbagai jenis kamera,tentang nama salah satu peserta yang bernama affan (kok bukan afgan?),tentang laskar pelangi,tentang dekan salah satu universitas asal peserta wawancara yang katanya dulu sering nonton BF bareng, dan sebagainya.
Betul-betul sebuah wawancara yang menyenangkan. Hasilnya sudah keluar,dan nama saya tercantum untuk sesi selanjutnya di Jakarta. Kalau tidak ada halangan yang berarti saya berencana untuk hadir.
Doakan saya sodara-sodara ya..smoga penantian ini segera berakhir,aminn..hehehe..

Read Full Post »

Job fair di UGM ini adalah job fair pertama yang saya ikuti. Tiket masuk per hari nya IDR 20.000, 2 hari berarti 40.000, berat juga untuk jobseeker, hehehe…

setelah tiba di tempat acara, ternyata banyak juga jobseeker yang masih bermukim di jogjakarta.

Saya teringat analogi teman saya yang bilang begini

“kalo ada job fair di Jogja, sama aja kayak ngasih ikan lele makan di kolam, banyak banget lele yang bergerombol nyari makan, sementara makanannya Cuma sedikit”

dan saya bilang sama teman saya

“mudah2an saya lele yang beruntung, hehehe”

Sebetulnya ini salah siapa sih? hingga tiap ada job fair dimanapun kotanya, pasti penuh pengunjungnya.

  • Pemerintah kah ?

yang tidak mampu menciptakan iklim investasi yang baik sehingga banyak terciptanya lapangan pekerjaan.

  • Atau Sistem Pendidikan di Perguruan Tinggi kah?

Yang mencetak ribuan pengangguran tiap tahunnya (termasuk saya, hehehe), yang mana mahasiswanya hasil cetakannya untuk jadi pekerja aka karyawan aka kuli.

  • Atau para sarjana itu sendiri ?

Generasi copy paste, fotokopian, malas, banyak keluyuran, Yang tidak pandai melihat peluang, mental kuli, tidak punya modal dan nyali untuk berwirausaha, gengsi tinggi, terlalu banyak milih.

Dan saya masih terus berusaha dan berdoa dan berusaha dan berdoa, Amin.

beberapa gambar yang sempat saya ambil di Job fair 2-3 april

Read Full Post »

beberapa waktu yang lalu, sebagai seorang jobseeker, hehehe. Saya sempat mengirim lamaran ke grapari halo yang ada di ibukota kabupaten tempat saya tinggal. namun sayangnya panggilan wawancara saya ga dateng. ada beberapa hal yang membuat saya tidak menghadiri panggilan ngobrol-ngobrol dengan pimpinan grapari tersebut :).

ada beberapa hal yang menghalangi saya dan sempat membuat saya ragu untuk menghadiri undangan tersebut.

pertama…

telepon panggilan wawancara tersebut saya terima pukul 10 pagi, dan membangunkan saya dari tidur nyenyak. saya harus menghadiri wawancara jam 14.30 sore. jarak antara rumah saya dan kantor grapari tersebut kurang lebih 70 kilometer!!dan hari sedang hujan deras-derasnya.

saya menunggu hingga hujan reda, tapi hujan ga kunjung reda.

akhirnya saya memutuskan untuk tidak menjawab panggilan tersebut.

yang menjadi pertanyaan saya dan sempat men-judge  yang tidak pantas,

“kenapa jadwal wawancaranya harus hari itu juga?? knapa ga ditunda beberapa hari setelah pemberitahuan, apa perusahaan tsb sudah kebelet pengen punya marketing baru?”

dan saya berkesimpulan, mereka kurang profesional…hehehe

Read Full Post »

Older Posts »