Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2008

catatan akhir tahun

Di hari terakhir di tahun 2008 ini,saya akan mencoba review beberapa kejadian yang saya anggap penting dalam kehidupan saya. Bisa dibilang ini posting rapelan yang belum sempat di posting,yang terangkum dalam beberapa draft. Dan ini lah beberapa diantaranya :
1. IJAZAH ILANG
peristiwa terbesar dalam hidup saya untuk tahun ini. Gara
-gara selembar ijazah ini,saya harus balik ke jogja tanpa persiapan apa-apa. Hanya sehelai baju yg saya pakai serta dokumen. Dan perjalanan ke jogja waktu itu harus ditempuh dengan menumpang kereta argo bromo tanpa tempat duduk menuju semarang dan kemudian dilanjutkan dengan bus menuju jogja oper di magelang. *sigh*
2. JADI KARYAWAN KONTRAK
terhitung 18 nopember dan gajian 24 desember,saya resmi jadi karyawan kontrak. Karena pekerjaan ini lah,domisili saya sekarang di sungailiat,ibukota kabupaten bangka.
3. JADI LURKER DI KAMPUNG GAJAH.
Untuk anda yang ingin belajar tentang kekuatan hati dan mental,silahkan sab di kampung gajah.
Beberapa hal statis lainnya ialah tentang listrik yang masih payah,ditambah dengan sejuta alasan politis para politisi. Oh ya,jalan-jalan juga semakin semarak menyambut 2009,banyak wajah-wajah asing yang mencoba peruntungan di 2009.
Hari ini juga ada pengumuman resmi CPNS wilayah Provinsi BABEL. Selamat buat yang keterima,yang belum jangan berkecil hati.

Cukup,
Sampe jumpa 2009.

Read Full Post »

dalam beberapa minggu terakhir saya punya keluarga baru, Ibu Wati, bang Deny, Ochi, bang Iwan,bang sepri, ibu ida, Rani, Selly, Elin, Rina, pak Asraf, pak Boy, Albar, pak Santoso, pak Didik, pak Gustamar, pak Sadikin, bang Ivan, atok, dan yang belom kesebut silahkan absen..hehehe….

dan juga banyak saudara baru di kampung, walaupun saya masih segan untuk ikut-ikutan nge-junk 🙂

*tentang warga kampung akan saya bikin postingan khusus segera, hehehe*

Menyenangkan!!! 🙂

Read Full Post »

berikut adalah beberapa berita dari koran lokal Bangkapos. Beberapa Berita yang menurut saya perlu untuk saya teruskan di sini :

Berita yang pertama

Sumber: BANGKA POS / Sri Ayu Indayani

Babel Benderang Payah

Sabtu, 01 November 2008 10:03:04 WIB

PANGKALPINANG — Tekad Bangka Belitung (Babel) Benderang 2010 akan sulit terwujud. Pasalnya semua rencana pembangunan PLTU bertenaga batubara itu banyak ganjalan. Mulai dari akses jalan hingga pelabuhan.

Bahkan pembangunan pembangkit oleh swasta seperti Bangka Power masih terbelit setumpuk masalah. Peletakan batu pertama pembangkit itu pun bisa tinggal kenangan.

Bukan mustahil pula sebanyak enama rencana PLTU tersebar di Pulau Bangka dan Belitung itu menghadapi kendala lain imbas krisis keuangan global.

Manager Bidang Perencanaan PT PLN Wilayah Bangka Belitung, Sulistyono mengakui aneka kendala pembangunan PLTU di Babel itu. Seperti PLTU Perpres 2×30 MW di Bangka terkendala akses jalan dari jalan exiting menuju lokasi proyek di Air Anyer.

Sedangkan PLTU Perpres di Belitung, lebih banyak lagi kendala. JETI tempat berlabuh kapal dan tempat untuk meletakkan batu bara. Semula rencananya 300 meter, ternyata kedalaman laut tidak cukup. Kedalamana laut yang diinginkan sekitar 1.600 meter. Adanya perubahan ini, berarti memerlukan tambahan biaya dan proses lebih lanjut lagi.

“Untuk Perpres di Belitung masih terkendala, sedangkan Perpes 2×30 Bangka terkendala akses jalan. Kalau akses jalannya dinyatakan selesai maka proses pembangunan akan segera dimulai. Jika akses jalan dinyatakan bisa dijalankan maka pembangunan akan selesai dua tahun kedepan. Kita mengharapkan bantuan pemda setempat dalam hal ini pemda Bangka untuk menyediakan akses jalan tersebut,” ungkap Sulistyono kepada Bangka Pos Group Jumat (31/10) ditemui di ruang kerjanya.

Ia mengatakan untuk PLTU seperti Bangka Manunggal Power (BMP) dan Bangka Power (BP) merupakan Independance Power Produser (IPP), pengerjaannya dilakukan oleh pihak swasta.

Bangka Manunggal Power dalam proses pembangunan, diperkirakan awal 2011 baru terealisasi. “Sedangkan Bangka Power sejauh ini masih banyak kendala, masih banyak proses yang harus dilakukan. Seperti proses PPA belum selesai dan proses lainnya, tentunya masih banyak kendala dan realisasinya akan lama,” papar Sulityono.

Sedangkan pembangkit di Belitung kapasitas 2×7 MW yang juga IPP mengunakan bahan bakar cangkang sawit diperkirakan akhir tahun ini akan selesai. “Tapi ini masih rencana, karena menurut perkiraan apakah ada kendala dalam mendapatkan sumber cangkak sawitnya” katanya.

Alternatif

Walaupun demikian kata Sulistyono, pihaknya terus mengupayakan listrik ini misalnya melalui PLTD dengan bahan bakar MFO (Marine Fuel Oil), mengadakan 3×5 MW untuk Bangka dan 1×5 MW untuk Belitung.

“Anggarannya masih dalam proses di PLN pusat. Kalau tahun ini keluar, maka kita perkirakan akhir tahun 2009 akan terealisasi,” ujarnya.h)Disamping itu, lanjut Sulistyono, pihaknya juga berencana menyewa PLTD dengan bahan bakar MFO dengan kapasitas 2×5 MW.

“Ini kita sudah proses ijin ke PLN pusat, kalau ijin ini keluar maka pertengahan tahun 2009 ini akan menyala dan dapat dioerasikan,” katanya.

Selain itu juga, dilakukan upaya jangka pendek dengan melakukan pemindahan mesin PLTD dengan kapasitas 1×5 MW dari Bengkulu ke wilayah Bangka. Selambatlambatnya diharapkan akhir Maret 2009 dapat terealisasi.

“Kita upayakan sebelum pemilu ini bisa selesai. Diharapkan kapasitas ini bisa memperkuat sistem kita di pulau Bangka ini,” ujar Sulistyono.

Menurutnya bahan bakar MFO ini dalam rangka efisiensi biaya produksi untuk penghematan. Ini kerjanya sama halnya dengan PLTD lainnya, hanya saja ini mengunakan bahan bakar MFO sehingga lebih murah. Apabila pengadaan PLTD ini (3×5 MW, 2×5 yang sewa), maka pihaknya akan merencanakan untuk membuat sambungan baru.

Tapi dalam hal ini juga PLN sangat mengharapkan untuk PLTU perpres di Bangka, dimana pemda untuk secepatnya bisa menyediakan akses jalan daerah tersebut.

“Semakin cepat itu selesai, maka makin cepat juga selesai proses pembangunannya. Karena efektif date dari kontrak perpres itu dinyatakan berlaku sejak access road timing,” ujarnya.

Daftar Tunggu

Untuk saat ini Ia mengatakan daftar tunggu pemasangan baru sebanyak 20.000 pelanggan. Untuk memenuhi daftar tunggu ini dibutuhkan daya kurang lebih sekitar 10 MW. Perlu diketahui, kata Sulistyono saat ini daya mampu sangat terbatas, untuk wilayah Belitung memiliki daya mampu sebesar 21 MW dengan beban puncak 17 MW, sedangkan untuk daya mampu di pulau Bangka, khususnya wilayah Pangkalpinang sekitar 47 MW, dengan beban puncak lebih besar dari itu.

“Oleh karena itu kita sering lakukan pemandaman bergilir mengingat beban kita yang besar. Selain itu juga hampir setiap hari bagi pelanggan besar yang mengunakan genset atau captice power, hampir tiap hari mati,” katanya.

Alternatif Bahan Bakar

Untuk penghematan biaya produksi, dengan memanfaatkan bahan bakar lain, adanya kondisi saat ini dengan turunnya komuditas seperti CPO. Maka PLN akan memcoba memanfaatkan bahan Puer Palm Oil (PPO) yang dijadikan sebagai campuran solar yang digunakan sebagai bahan baku PLTD. Untuk pemanfaatan PPO ini, kata Dia sebelumnya sudah pernah di lakukan di wilayah lain seperti Lampung, hanya saja ketika terjadi kenaikan harga CPO maka itu tidak dilakukan lagi.

“Sekarang kan harganya sedikit lebih murah, kita manfaatkan itu. Disini mesinnya tetap hanya saja bahannya bakarnya yang berbeda. Ini bukan uji coba, karena sebelumnya sudah pernah dilakukan,” kata imbuhnya.

Disinggung adanya penertiban aliran listrik yang sedang dilakukan PLN saat ini, otomatis beban listri PLN sedikit berkurang, apakah adanya banyaknya pencurian listrik, PLN akan melakukan penyambungan baru? Ia mengatakan Opal ini berlangsung bukan hanya untukh)kepentingan PLN tapi juga kepentingan masyarakat. Kalau Opal yang dilakukan ini berhasil, ini dapat menurunkan beban puncak misalny kalau ada penurunan sekitar 23 MW, berarti ini kemungkinan ada peluang untuk memenuhi daftar tunggu.

“Opal ini tidak sematamata untuk PLN untuk melakukan dalam hal penertiban, tapi juga masyarakat sendiri. Sehingga beban kita menjadi berkurang dan PLN pun tidak sering melakukan pemadaman bergilir. Pemadaman bergilir ini kita lakukan karena beban mampu kita kekurangan,” jelasnya seraya berharap supaya pelanggan hidup berhemat menggunakan listrik, gunakan listrik seperlunya saja. Dengan masyarakat banyak yang berhemat, akan terjadi penurunan beban puncak. (bangka pos/i4)

Berita Yang Kedua

Sumber: BANGKA POS / Asmadi

Bangka Power Sebatas Tiang Pancang

Rabu, 05 November 2008 09:34:26 WIB

PANGKALPINANG — Inisiatif Pemkot Pangkalpinang mengadakan pembangkit listrik swasta menjadi alternatif guna mengatasi keterbatasan energi ini. Keterbatasan listrik menjadi faktor penghambat investasi di daerah ini. Mengharapkan listrik PT PLN sangat sulit. Daya yang ada pun sudah megapmegap.

Lalu Pemkot menggandeng pihak swasta guna membangun PLTU Bangka Power. Rencana ini sudah dimunculkan sejak tahun 2002. Memang tidak mudah, butuh waktu lima tahun guna mewujudkan rencana itu. Itu pun baru sebatas pemancangan tiang pertama lokasi PLTU di kawasan muara sungai Baturusa pada tahun 2007.

Selanjutnya bagaimana nasib PLTU Bangka Power? Harapan itu masih jauh. Proses PPA antara PT Bangka Power dengan PT PLN Persero pun belum terlaksana. Belum lagi masalah pendanaan oleh bank. Dalam situasi ekonomi global dan terpuruknya nilai rupiah terhadap dolar AS, kelanjutan PLTU ini makin bertumpuk.

“Bangka Power sejauh ini masih banyak kendala, banyak proses yang harus dilakukan. Seperti proses PPA (Power Purchasing Agreement) belum selesai dan proses lainnya, tentunya masih banyak kendala dan realisasinya akan lama,” papar Sulistyono Manager Bidang Perencanaan PT PLN Wilayah Babel.

Tak saja pihak PLN, Walikota Pangkalpinang Zulkarnain Karim pun meyatakan hal serupa. Bahkan kata Walikota, meski Purchasing PPA antara PT Bangka Power ditandatangani PT PLN Persero, persoalan listrik di Pangkalpinang belum tentu dapat teratasi.

“Jika PPA ditandatangani oleh pihak berwenang, namun untuk meminjam uang ke bank belum tentu dapat disetujui. Karena bank tidak akan langsung mengucurkan begitu saja dananya apalagi terkait dengan persoalan ekonomi global yang tengah berlangsung,” kata Zulkarnain, ketika ditemui harian ini di Gedung Hamidah akhir pekan lalu.

Walikota mengaku pihaknya telah bertemu dengan pihak Bangka Power. Dan pihak perusahaan pun mengakui kesulitan pendanaan proyek listrik ini oleh bank.

“Pihak bank sulit memberikan kreditnya, apalagi bankbank pemerintah diinstruksi untuk melakukan buy back (pembelian kembali) sahamsaham yang jatuh akibat krisis keuangan global ini. Akibatnya, bankbank yang ada tersebut memerlukan dana untuk melakukan buy back,” tukas Walikota.

Guna mengantisipasi kemungkinan terburuk persoalan listrik di Babel, Zulkarnain mengajak pmerintah daerah lainnya membuat terobosan baru.

Nada pesimis terhadap kelanjutan Bangka Power, diuangkapkan Wakil Ketua DPRD Pangkalpinang Hamzah Suhaimi. Program pembangunan pembangkit oleh Bangka Power dicanangkan tahun 2004, kata Hamzah sampai sekarang belum terealisasi. Dengan berbagai macam alasan, termasuk krisis keuangan global.

“Kita kurang yakin Bangka Power terlaksana karena tandatanda untuk yang terlaksana belum ada, kecuali tiang pancang peresmian,” ujar Hamzah.h)Hamzah berharap PLN sebagai perusahaan negara tetap menyiapkan kebutuhan listrik bagi warga. “Kalau tidak, kita akan menunggu terus dalam kondisi yang ada saat ini,” tukas Hamzah. (bangka pos/spa)

Berita Yang Ketiga

Babel Benderang Terkendala Krisis Ekonomi Global

edisi: Jum’at, 28 November 2008

PANGKALPINANG, POS BELITUNG — Tantangan berat menghadang program Babel Benderang 2010. Bukan hanya persoalan teknis, badai krisis ekonomi global menghalangi harapan masyarakat Babel itu. Gubernur Eko Maulana Adi pun pesimis program ini akan terwujud 100 persen dua tahun mendatang.

“Anda mungkin sudah tahu apa penyebabnya. Krisis ekonomi global yang melanda belahan dunia termasuk di Bangka Belitung ini membuat kita tak akan bisa memenuhi 100 persen keberhasilan Babel Benderang 2010. Saya terpaksa harus pesimis,” ucap Eko ditemui Grup Bangka Pos usai mengikuti sidang paripurna pengesahan RAPBD Provinsi Babel tahun 2009, Kamis (27/11).

Eko memaparkan, tidak hanya Babel saja yang tak bisa memenuhi kebutuhan listrik. Beberapa provinsi lain juga mengalami nasib serupa. Eko mengatakan pemerintah akan mengambil langkah alternatif memberdayakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar seperti PT Timah Tbk dalam memenuhi sebagian kebutuhan listrik untuk  sementara.

“Mungkin di beberapa wilayah, masyarakat sudah bisa menikmati listrik secara maksimal. Salah satu contohnya di Kecamatan Belinyu. Tapi kan di daerah lain juga masih butuh pasokan lisrik. Pembangunan dan kehidupan masyarakat di Babel ini terus hidup dan sangat dinamis. Artinya perubahan dan pembangunan yang dilewati masyarakat sangat erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan listrik,” ujarnya.

Eko berharap banyak pada kemenangan Barrack Obama pada pilpres Amerika Serikat. Antisipasi dan solusi krisis yang sedang disiapkan Obama, diharapkan sedikit banyak akan mampu menekan kondisi krisis global yang terjadi.

Dari beberapa analisis yang telah dilakukannya, keengganan para investor mengembangkan sayap bisnisnya dalam bentuk power plan di Babel, tak lepas dari tingginya bunga bank dan anjloknya ekonomi dunia.
Mengatasi krisis listrik khusus bagi masyarakat di pelosok, Pemprov Babel akan meminta bantuan pemerintah pusat untuk mendatangkan sejumlah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Selain itu, kita juga ada kerjasama pembangunan PLTG, memaksimalkan potensi angin dan air, atau uap. Kita masih tetap menunggu siapa tahu ada perusahaan atau pihak lain yang tertarik,” kata Eko. (i3)

Produksi Listrik Dibatasi

DIREKTUR Utama PT PLN (Persero), Fahmi Mochtar mengemukakan pertumbuhan produksi listrik pada 2008-2009 dibatasi dengan perkiraan tumbuh 6,5 persen tahun 2008 dan 7,6 persen pada tahun 2009.
Setelah itu, 2010-2018 produksi listrik tidak dibatasi mengingat telah beroperasinya sejumlah PLTU proyek 10.000 MW. PLN akan menyambung permohonan dalam daftar tunggu.

“Pada 2018, rasio elektrifikasi ditargetkan mencapai 95,5 persen. Kondisi saat ini, total pembangkit yang dioperasikan PLN mencapai 25.222 MW dengan rasio elektrifikasi 60,78 persen,” kata Fahmi dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis (27/11).

Ia memperkirakan, total kebutuhan dana untuk investasi instalasi ketenagalistrikan (PLN dan swasta) sampai tahun 2018 akan mencapai 83,7 miliar dollar AS. Terdiri dari instalasi pembangkitan senilai 56,9 miliar dolar AS, transmisi 14,4 miliar dolar AS, dan distribusi 12,4 miliar dolar AS.
“Kebutuhan dana 10 tahun ke depan itu baik untuk proyek listrik PLN maupun swasta (IPP/independent power producer),” katanya.

Sesuai RUPTL, total daya pembangkit yang dibutuhkan sampai 2018 sebanyak 57.442 MW, terdiri dari IPP sebesar 22.168 MW dan PLN 35.274 MW. Kebutuhan daya tersebut tercantum dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN tahun 2008-2018.

Fahmi menambahkan, sebenarnya pengembang listrik swasta sudah mendapat jaminan dengan adanya subsidi listrik yang diberikan pemerintah ke PLN. “Pemberian subsidi ini menjadi jaminan bahwa PLN akan membayar ke IPP,” katanya.

Menurutnya, kalau IPP diberikan jaminan, maka nantinya tidak berbeda dengan skema pembangkit yang dibangun PLN. Pemerintah pernah mengeluarkan jaminan pada 27 proyek IPP tersebut. Sekarang ini, pemerintah juga telah memberikan jaminan penuh atas proyek percepatan pembangkit 10.000 MW yang dibangun PLN.

Selain China, perbankan Jerman dan BNP Paribas Perancis berminat memberikan kredit pendanaan proyek transmisi pembangkit 10.000 MW di luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Namun Fahmi Mochtar menyatakan pihaknya belum menindaklanjuti sinyal pemberian kredit dari perbangkan Jepang ini. “Itu baru sebatas minat. Belum ada pembicaraan lebih lanjut,” katanya.

Dana dari China

Proyek percepatan kelistrikan 10.000 MW belum sepenuhnya tuntas. Pemerintah berharap permasalahan pendanaan dari perbankan China dapat diselesaikan pada akhir November ini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Kamis (27/11) mengatakan, akhir bulan ini, sejumlah petinggi Pemerintah China akan datang ke Indonesia. Kedatangan petinggi China ke Indonesia itu merupakan rangkaian pertemuan dan kerja sama kedua negara dalam bidang energi yang sudah ketiga kalinya.

“Kami berharap pendanaaan bank-bank China bisa selesai saat pertemuan itu,” kata Purnomo.
Kebutuhan dana proyek 10.000 MW terdiri dari valuta asing (valas) senilai 4,5 miliar dollar AS (Rp 45 triliun dengan kurs Rp 10.000 per dollar AS) dan rupiah Rp 17,3 triliun. Dari kebutuhan valas 4,5 miliar dollar AS tersebut, sebanyak 1,5 miliar dollar sudah ditandatangani, sebanyak 1,9 miliar dollar lainnya masih dinegosiasikan dengan berbagai bank di antaranya Bank of China dan Bank Export-Impor China. Sisanya, sebesar 1 miliar dolar AS ditargetkan selesai tahun 2009. Sedang, dari kebutuhan pendanaan rupiah sebesar Rp 17,3 triliun, sudah ditandatangani Rp 14 triliun dan sisanya sebesar Rp 3,3 triliun diharapkan selesai tahun ini.

Jika masih kurang, PT PLN (Persero) telah memastikan pendanaan proyek pembangkit 10.000 MW sudah terjamin sampai tahun 2009. Tinggal realisasi pembangkitnya bertahap hingga tahun 2018.

Tahun depan, tiga proyek 10.000 MW di Pulau Jawa yakni PLTU Labuan unit 1 dan 2, Indramayu unit 1 dan Rembang unit 1 dengan daya total 1.890 MW dijadwalkan rampung.

Purnomo menambahkan pemerintah mempertimbangkan memberikan jaminan kepada proyek pembangkit yang dibangun swasta (IPP). Menurutnya, pengembang listrik swasta saat ini mengalami kendala pendanaan. “Dari 152 proyek IPP, hanya 25-26 yang jalan,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, ke depan, likuiditas pendanaan juga akan semakin sulit sebagai dampak krisis finansial sekarang ini.

Selain masalah pendanaan, kendala pembangunan IPP juga dikarenakan pengembang yang tidak kredibel dan kenaikan harga barang dan jasa.

Meski begitu, Purnomo mengharapkan pembangunan pembangkit listrik tidak boleh terhenti. Ia mengingatkan, penghentian 27 proyek IPP saat krisis ekonomi tahun 1997 lalu telah menyebabkan Indonesia mengalami kekurangan pembangkit saat ini.

Peneliti Eksekutif Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Agusman mengungkapkan, realisasi komitmen kredit dari perbankan dalam negeri untuk sektor kelistrikan pada 2008 baru mencapai 0,73% dari komitmen enam bank dalam negeri senilai Rp 9,8 triliun. Sehingga nilai kredit yang sudah dikucurkan baru Rp 71 miliar.

Dalam diskusi mengenai pendanaan sektor kelistrikan di kantor pusat PLN, Jakarta, kemarin, Agusman menjelaskan pada tahun 2007 realisasi penyerapan kredit untuk sektor kelistrikan cukup tinggi mencapai Rp 3,8 triliun. Daya serap ini jauh diatas komitmen yang hanya Rp 2,2 triliun. Tahun ini justru turun karena belum adanya jaminan pemerintah untuk proyek listrik swasta.

“Pemerintah hanya menjamin PLN saja. Padahal independent power producer sebagai perusahaan swasta juga membutuhkan jaminan pemerintah agar dapat membiayai tanpa melanggar ketentuan batas minimum pemberian kredit. Ini yang menyebabkan rendahnya daya serap kredit untuk sektor kelistrikan tahun ini,” tandasnya. (ant/adi/ugi)

dan saya ? Speechless!!!

Read Full Post »