Mulai darihari selasa siang yang lalu, entah sampai kapan, saya menginjakkan kaki (kembali) ke tanah kelahiran saya, ya BANGKA BELITUNG, lebih spesifik lagi BELINYU. Kepulangan saya kali ini menjawab sebuah panggilan kerja (masih…hehehe) dan sekalian mensucikan diri di Ramadhan kali ini.
Banyak hal tak terduga dan menjadi pelajaran penting tentang arti pentingnya bersyukur di perjalanan pulang kali ini, salah satunya ialah pertemuan saya dengan seorang kondektur Bus Pangkalpinang – Belinyu.
Abang kondektur ini masih muda, dari penaksiran saya usianya seumuran saya (17 24an tahun). Topik pertama yang dibahas adalah masalah rokok. tentang ketidakmampuannya jika harus hidup tanpa rokok. Lebih ekstrim dia bilang lebih baik tidak makan daripada tidak merokok, karena kalau tidak merokok bawaannya emosian, uring-uringan sepanjang hari (bahasa belinyu nya “nyerantak!”). Hingga akhirnya setelah hampir 2 jam perjalanan dan sudah sampai ke belinyu, baru la saya tahu bahwa si abang ini TIDAK BISA MEMBACA! Tahu nya dia tidak bisa membaca karena sang bapak Sopir memeriksa barang titipan, dan alamat yang dituju sudah dilewati oleh Bus yang saya tumpangi, dan berkeluh kesah tentang sang asisten yang walaupun bisa berhitung (terutama uang) tapi tidak bisa membaca.
Pada awalnya, saya dan beberapa penumpang yang tersisa, tidak percaya, bahwa orang yang sudah berusia seperti dia, tidak bisa membaca. Tapi setelah si bapak Sopir mengetes sang Abang Kondektur dengan menyuruhnya membaca alamat tujuan barang yang dititipkan, dengan pasrah di jawab si abang dengan tidak tahu. bahkan 2 kali disuruh membaca tetap tidak tahu.
Di momen ini, saya tersadar betapa beruntung nya saya walaupun sampai hari ini belum dapat kesempatan untuk bekerja alias bengangguran berijazah, tapi saya mempunyai kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan hingga Sarjana. Saya sempat berdiskusi sedikit dengan bapak yang duduk di sebelah saya tentang hal ini. Sedih, disaat Indonesia baru saja merayakan Ulang tahunnya yang ke-63 tapi ternyata masih ada rakyatnya yang tidak beruntung seperti abang kondektur yang saya jumpai ini.
Seharusnya kalau ada keinginan yang kuat saya yakin si abang ini bisa dengan cepat dan lancar membaca. buktinya Tulisan DJI SAM SOE dia tau, atau dia tau cuma karena ada angka 234 disana ? atau si abang kondektur ini penderita disleksia ? Dan jika pemerintah daerah bersikap proaktif (bukan reaktif) hal kecil seperti buta aksara ini dapat dengan cepat dituntaskan.
Sewaktu turun dari Bus, saya berbicara sedikit dengan si abang kondektur, agar mau untuk belajar membaca, tidak sulit kalau ingin belajar, dan saya yakin si abang pasti bisa membaca.
Setiba di rumah, saya bercerita dengan ibu saya, yang kebetulan dulunya adalah petugas penyuluh lapangan Keluarga Berencana. Kata Ibu saya masih banyak yang buta aksara di belinyu ini, di kampung kumpai (sekitar beberapa kilo dari ibukota kecamatan belinyu) banyak sekali yang tidak bisa membaca, bahkan usianya pun sudah lanjut.
Miris.. Semoga di pertemuan berikutnya, si abang kondektur sudah bisa membaca.







turut bersedih masih ada yang tidak bisa membaca di belinyu….
semoga ada yang mau bersolusi
begitu lah adanya,
kayaknya cuma kurang proaktif aja memberantas buta huruf, terlalu pusing dan sibuk ngurus BOS kali