Kemarin siang, saya mendapat telepon dari sebuah grup perusahaan kelapa sawit dari hulu ke hilir. Bapak HRD yang menelepon saya menawarkan sebuah pekerjaan untuk grupnya mereka yang berada di wilayah gresik jawa timur. Dengan bayaran yang lumayan untuk yang tidak punya pengalaman kerja sama sekali jika dibandingkan harus berangkat ke Borneo untuk posisi sama dan anak perusahaan yang lain.
Tanpa ragu-ragu saya langsung menerima tawaran tersebut. Sebagai seorang jobseeker tidak ada berita yang lebih menggembirakan selain keterima kerja atau paling tidak panggilan tes kesehatan. Sang HRD bilang, untuk informasi tentang jadwal tes kesehatan akan dikabarkan secepatnya. Mendengar kata tes kesehatan, tanpa tedeng aling-aling, dengan jujur saya katakan pada sang HRD bahwa saya menderita buta warna parsial. Hal ini saya katakan supaya saya tidak terlalu larut dalam kegembiraan sedangkan di depan ada jurang kecewa menghadang serta untuk membangun kepercayaan saja. Sang HRD berjanji akan membicarakan lebih lanjut kelemahan saya ini kepada atasannya secepatnya. Sore nya saya ditelepon lagi, sayangnya tidak sempat ke terima karena saya masih berjibaku dengan psikotes perusahaan yang lain.
Pagi tadi, dengan percaya diri saya telepon sang HRD, dengan maksud awal menanyakan jadwal tes kesehatan. Apa lacur, dengan sebuah kalimat permintaan maaf sang HRD mengatakan bahwa saya belum dapat bergabung dengan perusahaan mereka karena menderita buta warna. Sang HRD juga sempat memberikan beberapa kalimat motivasi agar jangan menyerah dan terus berusaha.
Saya ? kecewa. Sangat manusia bukan ? betapa dahaganya saya akan sebuah pekerjaan. Ketika Harapan itu ada, tidak genap 24 Jam harapan itu musnah seketika karena buta warna. Baru beberapa hari yang lalu saya menulis untuk membesarkan hati karena mengidap buta warna, tidak disangka-sangka secepat ini buta warna menjegal saya. Kalimat penyembuhnya hanya ” Belum rejeki”. “Allah Punya skenario terbaik buat saya”, etc.
Saya ingin bertanya kepada kawan-kawan yang sempat membaca tulisan saya ini.
Apakah saya sudah melakukan hal yang benar dengan mengatakan di awal sebelum tes kesehatan bahwa saya buta warna ? atau, saya terlalu jujur sehingga membuyarkan sebuah harapan ?
Sekarang perasaan saya sudah lega, sudah dapat menyalurkan pelampiasan kekecewaan saya melalui tulisan di blog ini. Karna hidup terus berjalan.
Cuma yang masih bingung, saya harus kecewa pada siapa ?
update :
baru baca dongengan nya pakde rovicky, sayang beda kasus…smangat!!!!







Jangan kecil hati. Dulu jamanku awal cari kerja banyak yang ditolak karena tidak bersih diri dari kasus gestapu.
Smangat … smangat …. !!!
Sampeyan sudah benar pak, karena tidak ada gunanya menempuh proses yang sudah pasti akan gagal. Mending waktunya di alokasikan untuk usaha yang lebih bermanfaat. Nulis blog misalnya.
.
Kecuali kalo untuk hal-hal yang bisa diusahakan. Misal sang HRD bertanya : sampeyan bisa perbaiki komputer engga ? Kalopun engga bisa, jawab aja bisa. Entar sampe rumah bisa dipelajari dulu
saya kira mas asfiandi tidak perlu memberitahu bahwa mas buta warna….coba lagi yah….
salam
trima kasih mas logic atas motivasinya