Setiap orang yang tidak terbiasa untuk berbohong, atau berbohongnya bukan untuk sebuah tindak kriminal, pasti pernah merasakan perasaan yang tidak enak, terus, cemas, waswas, khawatir, dan gundah gulana. Perasaan seperti cemas, waswas, khawatir, dan gundah gulana ini juga diderita orang yang taat peraturan, tapi karena terdesak dan terpaksa harus melanggar peraturan tersebut.
Contoh sederhana yang tidak berkaitan dengan kasus saya adalah pada saat membuka gebetan, contekan, konsep atau apapun namanya saat ujian. Untuk orang yang sudah biasa, mungkin bisa dengan santainya untuk buka-buka contekan di dalam kelas, bahkan orang-orang jenis ini berani untuk buka buku sekalian di dalam kelas, tanpa menimbulkan kecurigaan dari pengawas ujian. Tapi untuk orang yang sama sekali tidak biasa, dapat dipastikan tangan akan berkeringat, keringat dingin mulai keluar, liat kiri kanan, dan menimbulkan gerakan-gerakan yang mencurigakan.
Na’asnya, ini menimpa saya yang sangat menggunakan kebohongan untuk seperlunya saja
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pesan sms dari paman saya untuk minta dikirimkan tinta printer. Isi pesan smsnya kurang lebih begini
“Uang sudah di transfer, tolong belikan tinta printer 6 warna”
Saya, sebagai orang yang penuh perhitungan segera menyambangi kantor penitipan kilat JNE yang tidak jauh dari kost, bertanya di sana, apakah bisa mengirimkan tinta printer ke luar pulau jawa. Sayangnya, pihat penitipan kilat tidak berani untuk mengirimkan dengan alasan takut jika terjadi kebocoran dan pihak maskapai tidak mau menerbangkannya.
Tindakan logis dengan akal sehat adalah saya menghubungi paman saya untuk mengabarkan bahwa pihak penitipan tidak mau mengirimkan cairan untuk tujuan luar pulau jawa, dan saya akan mencari beberapa alternatif jasa penitipan yang lain, seperti TIKI, 555, kantor POS, dan lain-lain. Serta meminta nomor rekening Bank paman saya untuk mentransfer balik uangnya jika memang tidak ada jasa penitipan paket yang bersedia.
Balasan pesan singkat dari paman saya adalah
”tutup rapat-rapat, bungkus yang rapi, isinya bilang apa aja, paman sangat butuh, tolong..”
Akhirnya dengan perasaan yang gundah gulana campur aduk, saya beli tinta 6 warna sejumlah 6 liter itu. Setelah selesai di bungkus yang menurut saya cukup rapi, masih dengan perasaan cemas saya mendatangi kantor penitipan JNE (maaf JNE..hehehe) untuk mengirimkan paket tinta printer 6 liter, tanpa melakukan survey ke beberapa jasa penitipan paket yang lainnya.
Setelah berbasa basi dengan petugas, tiba la di pertanyaan yang sangat krusial dari sang petugas
”isi nya apa mas, ga ada yang berbahaya kan?”
Dengan satu tarikan nafas panjang saya jawab
“macem-macem, ada buku ama baju, ga ada yang bahaya kok”
Sang petugas tanpa perasaan curiga segera menimbang dan membuat nota pengiriman dengan isi paket buku dan baju, serta memberi tahu biaya yang mesti saya keluarkan.
”dua ratus lima ribu mas, sekitar 4 hari baru nyampe”
Transaksi selesai dan perasaan gundah gulana terus menghinggapi saya hingga mendapat kabar berita tentang keadaan sang paket. Apakah sampai alamat tujuan dengan selamat?atau pengiriman digagalkan karena isi paket berbeda dengan manifes?
Susah memang jadi orang (sedikit) jujur di bumi yang (hampir) permisif dengan segala bentuk kebohongan.
”persetan la, kalo memang nanti hilang tidak sampai alamat, bukan salah saya, saya sudah berusaha untuk mencoba meminimalisir resiko dengan tidak menuruti permintaan paman saya”
”Tapi dimana tanggung jawabnya?”
Dan perasaan saya masih harap-harap cemas







hmmm… emang susah bos. Saya juga bukan orang terlalu jujur bangetsss. Yah getu deh, namanya juga manusia dalam kekhilafan. Tapi selalu mencoba meminimalisir ajah. Kalo bisa dihindari, kenapa nggak. Keep fight…
trima kasih mas fisha, saya juga ga jujur2 amat…tapi berusaha untuk selalu jujur..pengen beda aja ama mayoritas masyarakat indonesia…;)
salam kenal, trima kasih sudah berkunjung
btw, Paket nya sudah sampe semalem tanpa cacat…lega!;)
Yang membuat hidup tidak jadi hitam putih adalah karena kita harus memilah-milah, pada saat kapankah berbohong harus dihayati sebagai sebentuk dosa atau malah kebajikan.
Contohnya, ada seseorang yang sedang diburu oleh sejumlah orang yang bertekad membunuhnya. Dia memasrahkan nasibnya pada anda, maksudnya minta anda sembunyikan dia. Apakah yang akan anda lakukan, di mana waktu untuk menimbang hanya hitungan detik.
tarolah akhirnya dia bersembunyi di suatu tempat, dan memohon dengan sangat agar Anda tidak memberi tahu jika para pemburu nyawanya bertanya pada Anda. Apakah Anda akan beritahukan ?
Salam kenal.
analogi yang menarik bang robert,
dengan pasti saya jawab “tidak tahu”
hehehe…
hehe memang…payah nih…semua gara2 teroris LAKNAT!!!! Saya juga mengalaminya mas…perasaan sama gundagh gulana…tapi ya gimana lagi ya…ini sgt mengganggu iklim bisnis….terus terang sy sgt sebel krn ga bs kirim cairan…
@agis : resikonya ya itu td, kalo kenapa2 nggak bisa klaim, dan berakhir dengan rugi materi yang sangat besar…hehehehe